Petualangan di Atap Pulau Lombok

Dikalangan pecinta alam, siapa yang tidak tahu Gunung Rinjani ?

Atap Lombok ini sudah tersohor sampai ke kampung-kampung para bule mancanegara.

Gunung Rinjani yang terletak di Provinsi NTB (Nusa Tenggara Barat) merupakan Gunung Berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci 3885 mdpl (Provinsi Jambi – Sumatra Barat). Gunung Rinjani ini memiliki ketinggian 3726 mdpl. Savana yang luas, kaldera yang melingkar, danau segara anak yang elok dan Gunung Baru Jari di tengah danau merupakan suguhan bagi para pendaki gunung rinjani.

Jalur pendakian menuju Puncak Rinjani ada 4 yaitu 2 jalur umum, via sembalun dan via senaru dan 2 jalur mainstream, via torean dan timbanuh. Kali ini, menuju puncak rinjani, kami menggunakan jalur pendakian via sembalun dan turunnya kami menggunakan jalur pendakian via senaru.

Okeee.. gas blaaarrr guyssssss..

Berangkat dari Bandung (31 Juli 2016)

Siang itu, 31 juli 2016 kami berangkat dari bandung pukul 14.00 menuju bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Berangkat jam segitu kami terancam ketinggalan pesawat. Kami memesan tiket pesawat untuk pemberangkatan 19.30 dari Soetta menuju Ngurah Rai. Harapan pesawat yang kami tumpangi delay sangat tinggi. Hal ini dikarenakan waktu tempuh normal dari bandung ke soetta sekitar 4-5 jam. Benar adanya, kami sampai di Terminal 3 bandara Soekarno Hatta pukul 19.00 hal ini menunjukkan bagasi telah ditutup. Kami berlarian dari travel berharap masih bisa menaruh tas carrier yang kami bawa ke dalam bagasi pesawat. Tetapi Tuhan masih memberi harapan kami untuk merealisasikan mimpi kami berdiri di Puncak Rinjani. Pesawat kami delay 1 jam. Saat itu kami sangat bersyukur sekali

“Siapkan rencana dengan matang, atur alokasi waktunya dengan baik. “

Kami beristirahat sejenak. Kemudian pukul 20.40, pesawat kami akhirnya lepas landas menuju Bandara Ngurah Rai, Bali. Karena kami kecapekan di travel, saya tidur selama di pesawat. Pukul 00.40 WITA, 1 Agustus 2016, kami tiba di bandara ngurah rai, bali. Ya.. kami tiba di pulau dewata. Saat turun dari pesawat dan memasuki gedung bandara, kami disuguhkan dengan patung-patung khas bali. Reflek salah satu dari kami menyalakan kamera, kami foto bersama di dekat patung tersebut. Kami keluar menuju pintu kedatangan. Disana kami sudah ditunggu oleh sopir travel yang sebelumnya sudah kami hubungi untuk mengantarkan kami ke pelabuhan padang bai. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan padang bai.

4 jam di tengah laut

Sampe di pelabuhan padang bai, kami membeli tiket kapal fery untuk menyebrang ke pelabuhan lembar. Saat itu kami tidak langsung menaiki kapal. Kami memilih untuk beristirahat dulu dengan rencana menaiki kapal yang berangkat sekitar pukul 3 pagi. Disana kami melihat para pedagang asongan yang masih menjajakan dagangannya. Perjuangan untuk melanjutkan hidup.

Sekitar pukul 3 pagi kami menaiki kapal dan berangkat menuju pulau seberang, pulau destinasi kami, pulau Lombok. Di Kapal kami mencari tempat buat spot tidur. Karena kondisi kapal saat itu sepi penumpang, kami bisa leluasa tidur berbaring. Badan yang butuh istirahat, mata yang memaksa menutup membuat kami tidur sangat lelap. Lelapnya tidur alarm saya berbunyi, membangunkanku untuk melaksanakan Shalat.

Setelah itu saya menuju sisi luar kapal. “WOWwww”. Sang mentari bangun menyapa dunia. Sunrise nan elok, sinar yang menyorot memberi salam pagi kepadaku kala itu. Mentari beranjak naik. Langit terbentang luas membiru. Angin spoi-spoi yang memberikan suasana damai dipagi itu. Tak hanya itu, terlihat disisi kanan kapal, segerombolan lumba-lumba muncul dipermukaan. Lantas saya dengan cepat mengabadikan momen tersebut. Momen langka yang mungkin belum tentu saya temukan lagi jika suatu saat nanti saya melewati selat ini.

img_20160801_065646
Sunset di Selat Padang Bai- Lembar

 

Nasi Sepuluh Ribuan

Empat jam berlalu, akhirnya kami tiba di pelabuhan lembar. Salah satu pintu menuju keindangan pulau Lombok. Perasaan kami semakin melayang-layang, Puncak Rinjani pun semakin dekat. Tetapi terdapat suatu yang tidak nyaman dirasakan. Calo-calo angkutan umum berdatangan menawarkan jasa angkutannya sambil sesekali memaksa kami untuk ikut dengannya. Karena banyaknya calo, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.

“Ibu, mau beli makan. Sepuluhribu dapat lauk apa aja ya bu?” Ujar saya. Karena sudah menjadi strategi kami kalau makan default dengan harga 10ribu. Maklum traveler kurang modal :D:D:D.

“Sayur sama ikan ini mas.” Ujar ibu warung.

“Nasinya dibanyakin aja ya bu, lauknya dikurangi sedikit aja. Sepuluh ribuan ya bu.” Tambah saya. Hehehe, ngirit boy, jaga-jaga uang kalau ada hal yang tak terduga.

Kami semuanya pun makan dengan menu yang sama. Harga sepuluhribuan. Kecuali salah satu teman kami, Apis. Dia makan dua porsi :D. Strategi makan ini kami terapan selama destinasi ini.

Selesai sarapan, Ada bapak-bapak yang mendatangi kami. Beliau menawarkan angkut untuk mengantarkan sampai sembalun.

“Sampai sembalun berapa pak?.” Tanya Catur (teman ekspedisi). “700 ribu lah, kalian kan bertujuh jadi pas 100 seratus.” Jawab Bapak tersebut. Akhirnya setelah nego-nego jadi bayar 70ribu perorang. “Ini benar sampai sembalun kan pak? Tidak dioper-oper lagi?” Tanya Catur lagi. “Iya sampai sembalun.” Jawab Bapaknya.

Akhirnya kami naik angkot ini berangkat menuju sembalun, desa terakhir sebelum pendakian. Selama perjalanan kami dijamu dengan suasana desa.

Sesekali masjid-masjid besar kami lewati, hal ini yang menunjukkan pulau Lombok yang terkenal dengan pulau seribu masjid. Mulai sejak itu saya berpikiran bahwa orang-orang di Lombok taat beribadah, agamanya kuat, baik-baik dan ramah.

Bowo, Preman Mandalika

Di dalam mobil kami bertanya banyak hal dengan bapak ini. Kami menanyakan daerah-daerah wisata di Lombok, transportasinya dan pusat oleh-oleh yang terkenal. Selain itu kami juga menanyakan mengenai keamanan di Lombok ini.

“Sekarang itu masing sering kejadian mobil-mobil yang diberhentiin gitu ga sih pak? Pernah dengar cerita kalau ke sembalun itu harus naik pick up, kalau naik mobil tertutup sering diberhentiin preman gitu?” Tanya Catur.

“Tidak juga kok. Aman kalau sekarang sih. “ Jawab Sopir angkot.

Akhirnya kamipun percaya aja sama sopir angkot tersebut.

Setelah satu jam tak tau kenapa angkot yang kita naiki berhenti di gang sepi di sebrang pom bensin. Kami sangat asing dengan tempat ini, maklum kami baru sekali ini menjajakan kaki di pulau ini. ternyata kami dipindahkan ke mobil pick up. Kami agak kecewa sebenarnya sama bapaknya ini. Janji di awal langsung sampe sembalun.

“Pak katanya langsung ke sembalun?” Tanya Apis. “Bareng ini, pick up ini sudah saya bayar. Pick up ini langsung ke sembalun. Nanti kalau ada apa-apa di jalan, hubungi saya aja lewat kontak yang tadi saya kasih.” Jawab Bapaknya.

Kami pun memindahkan barang ke pickup. Setelah barang kami semua dipindahkan bapak sopir angkot tadi langsung pergi. Disini kami mulai was was. Karena yang kita tahu dari kabar orang, lombok terkenal dengan premanisme yang begitu kejam. Kami berdiam cukup lama disini. Hamper setengah jam mobil pick up yang kami naiki tidak jalan-jalan. Saat ditanya mas-mas sopirnya, kata beliau masih nunggu istrinya. Kondisi ini kami tenang tapi sedikit was-was.

Benar juga kami di datangi 2 orang berpostur preman salah satunya bernama Bowo. Bowo memiliki rambut yang panjang memakai jaket jeans yang sudah sobek-sobek. Kami ditanya-tanya mau kemana dan bayarnya berapa. Saat kami menjawab kalau kami mau ke Sembalun dan kami membayar 70 ribu perorang ke bapak sopir angkot tadi. Kemudian dia seperti merasa dirugikan gitu, soalnya lembar sembalun dengan harga per orang 70k dinilai murah.

“Mas-mas aku bilangin ya.. 70 ribu itu lembar sini. Mana ada 70 ribu lembar sembalun. Kamu dibohongi sama sopir angkot tadi.” Ucap Bowo. Saya mulai bingung. Saya Tanya ke pada masnya sopir pick up, masnya tak jawab apapun, malah Bowo yang nambahin, “Kamu tidak kasian sama masnya sopir ini mas? Dia Cuma diberi seratus dari bapaknya tadi. Kamu dibohongi.”

Bowo terus mencari-cari kesalahan kami. Dari sikapnya, tujuan bowo sudah bisa di tebak kalo dia meminta uang. Kami pun mulai tidak nyaman dengan si Bowo ini. Kami mendesak masnya sopir pick up untuk segera berangkat. Akhirnya setelah istrinya dating, kami pun melanjutkan perjalanan ke sembalun walaupun kasus dengan Bowo belum selesai. Dalam pikiranku kami sudah aman. Bowo sudah tidak bersama kami lagi.

Ternyata dugaanku salah, Bowo tiba-tiba ada didepan mobil kami. Dia menghentikan mobil kami dan kembali membahas masalah uang tadi. Disaat itu kami sangat kesal sekali. Bagaimana tidak kesal. Panas -panas, tak tau apa2. Tiba-tiba di palak sama bowo. Kami berniat menelpon bapak sopir angkot diawal karena bapak tadi bilang kalo ada apa2 suruh telpon dia. Bapak yg ditelpon bilang dia masuk ketempat kami. Tetapi setelah ditunggu lama, tidak muncul-muncul.

Kami mengancam dengan nelpon polisi. Dan bowo memaksa untuk tidak menelpon polisi.

“Sudah mas jangan memperpanjang masalah. Enaknya gimana gitu. Taulah mas. Lembar Sembalun itu tidak semurah itu.” Kata bowo. “Terus bagaimana pak? Ini kami sudah 1 jam lebih ini dengan bapak.” Tanya Aiman (teman ekspedisi). “Gini aja, kalian tambahkan 300 ribu bayar ke saya.” Lanjut Bowo. Hal ini memperlihatkan bahwa dia minta uang.

“Tidak begitulah pak. Kita disini sama-sama tau mana yang baik mana yg benar. Kenapa bapak minta uang ke kami?” Ujar aiman. Suasana tambah panas. Si bowo kembali memaksa. “Pak kami disini cuma bawa bekal sedikit. Ini aja hemat. Kami disini masih lama.” Ujar catur.

Sudah kelewatan sabar apis bilang. “Yaudah bapak minta berapa?”. “Kan harusnya mandalika sembalun satu orang 60k. Kalian itungannya baru bayar 20k. Nah makanya kurang 40k. Berarti 40×7 = 280k.” Ujar bowo.

Saya sudah tidak sabar menanggapi si Bowo.  “Yaudah pak. Gini deh pak kami mau ngasih uang cuma ga banyak. 50k semuanya bagaimana pak.” Ujar aku. Akhirnya nego-nego kami memberi 70 ribu. Setelah itu bowo pergi. Kamipun melanjutkan perjalanan ke sembalun.

“Lombok sangat rawan terhadap premanisme, persiapkan diri kalian baik-baik jika kalian ke lombok memanfaatkan fasilitas umum. Kalau bisa menggunakan kendara pribadi saja jauh lebih aman.”

Sejuknya Sembalun

Rasa kesal pasti, di pick up kami ngobrol-ngobrol mengenai kejadian tadi. Tapi rasa kesal itu terlupakan dengan suasana sepanjang jalan yg sangat memukau. Sengat sang mentari menyengat tubuh kami yg berada diluar pickup. Udara yg dingin yang kami rasakan. Sawah yang membentang di sepanjang sisi jalan. Masjid yg besar dan megah.

Satu jam berlalu, medan jalan yang mulanya datar. Berubah menjadi jalanan berbukit dengan pemandangan yang sangat elok disisi kanan kiri jalan. Suasana pegunungan yg mulai terasakan. “RINJANI didepan boyyy.. ” ujar salah satu temen aku.

sebelumsembalun
Jalan di Desa Sembalun

 

Akhirnya kami sampe di desa sembalun. Kami sampe sekitar pukul 16.00. Kami pun belanja bekal dulu untuk survive di gunung.

Disana kami bertemu dengan seorang pemuda seumuran dengan kami. Kami diantar membeli bekal segala macam. Kami ngobrol begitu banyak.

“Masnya sekarang kerja apa kuliah?” Ujar aku. “Saya kuliah di mataram, di univertas mataram.” Ujarnya. Tak lama berselang spontan satu pertanyaan keluar dari mulutku. “Disini itu pemudanya banyak yang kuliah apa kerja apa gimana mas? Nikah gitu mungkin? Hehehehe. “. “Jadi gini mas, disini itu kebanyakan pada kerja mas. Kalo tidak ya pengangguran. Maklum disini kan jauh dari tempat kuliah. Paling kalau kuliah ya di universitas mataram. Tapi itu hanya sedikit orang.” Lanjutnya.

Saya lupa namanya siapa, tetapi orangnya ini baik sekali. Dia mengantar saya membeli macam-macam sayuran, makanan, dan lauk-lauk instan. Dia mengajari saya bahasa daerah hanya untuk berbicara dengan orangtua disana untuk membeli makanan.

“Tidak semua orang mendapat fasilitas pendidikan layaknya kita. Kita patut bersyukuri dan bersungguh-sungguh dalam segala bidang. Kalau bukan kita yang memajukan Indonesia, Siapa lagi?”

Setelah semua terasa cukup. Kamipun menuju ke kantor Taman Nasional Gunung Rinjani yang ada di Sembalun.

 

Dinginnya Malam dan Kekhawatiran orang terdekat

Sekitar pukul 5 sore kami sampai di kantor Taman Nasional Gunung Rinjani yang juga sebagai tempat membeli tiket masuk kawasan Taman Nasional. Disini kami istirahat, shalat ashar, dan merapikan barang-barang. karena sudah jam 5, kantor sudah tutup, pendakian mau tidak mau harus keesokan harinya.

Mengisi waktu sore itu kami bersih-bersih badan. Kami pun jalan – jalan di sekitar kantor bahkan jajan cilok. Suasana desa di kaki gunung ini masih sangat terasa banget. Kami duduk-duduk di warung deket pos, kami bertanya panjang lebar sama ibu penjaga warungnya. Tiba-tiba keluar perkataan dari si ibu. “Tadi pagi baru terjadi letusan dek diatas sana. ” Mendengar kabar tersebut kami sontak kaget.

Kami sampai disini dengan tujuan naik gunung, harus balik rumah gara2 gunung meletus. Kami mulai mencari info-info mengenai letusan gunung rinjani. Tenyata yang meletus bukan Gunung Rinjaninya tetapi Gunung Baru Jari yaitu gunung yang berada di tengah danau. Akibat letusan ini sampai-sampai bandara sampai ditutup sementara.

Kami agak lega saat salah satu temen saya nanyain ke bapak2 sekitar kantor. “Katanya baru meletus yaa pak? Aman ga ya pak?.” Tanya temenku. “Iya tadi pagi meletus, siang tadi kan sampai bandara ditutup. Tapi masih aman kok. Kalo belum ada peringatan berarti masih aman.” Jawab bapaknya.  Mulai sejak itu, saat saya buka line, banyak sekali chat yang menanyakan kabar kami disini. Rata-rata pada menanyakan kondisi kami setelah berita meletusnya Gunung Baru Jari ini terekspos di televisi.

Malam itu kami menginap di kantor TNGR. Kami tidur di gazebo samping kantor dan di mushola nya yang tidak begitu besar. Setelah jam 7 malam suasananya sangat sepi sekali. Sayup-sayup terdengar suara bapak-bapak yang sedang jaga ronda. Pada malam itu beberapa dari kami ditelpon sama keluarga di rumah mengenai kekhawatiran keluarga karena kabar meletus tersebut. Bahkan ada dari teman kami yang sempat tidak diperbolehkan mendaki gunung rinjani.

Sekitar pukul 9 malam tiba-tiba ada dua orang wanita menaiki sepeda motor baru sampai di kantor. “Kalau mau membeli tiket pendakian dimana yaa?” Tanya si mbak. “Waduh sudah tutup mbak dari jam 5 sore tadi. Emangnya dari mana mbak?” Tanya Catur. “Kami berdua dari Bali, disini liburan. Kami sudah ke pantai-pantai dan ini merupakan destinasi terakhir. Pengennya malam ini mau naik gunung.” “Lah berdua doang mbak dari bali naik motor?” Tanya Catur Lagi.

Selain itu, kami juga bertemu dengan pendaki yang salah satunya berasal dari ITB bersama ketiga temannya yang berasal dari UI, UNPAD dan ITS. Dan anak UInya merupakan satu jurusan dan teman dari Caesar (teman ekspedisi) yang juga berasal dari UI.

“Dunia begitu sempit.”

Sebagian dari kamipun ngobrol panjang lebar dengan mbak-mbak dari Bali ini, sementara yang lainnya ada yang sudah tidur. Akhirnya malam semakin malam dan kami semua tidur.

Awal Petualangan

Keesokan harinya, Selasa 2 Agustus kami bersiap untuk memulai pendakian. Jijon dan Catur membeli tiket masuk TNGR dengan harga 5ribu perhari perorang domestic. Sementara yang lain mempersiapkan barang bawaan dan dikemas ulang dimasukkan ke dalam tas carrier. Setelah semua beres kami memulai pagi ini dengan berdoa bersama. Tak lupa kamipun mengabadikan momen dengan foto bersama dengan background Puncak Rinjani.

berangkat
Foto di Kantor Masuk Kawasan TNGR Sembalun

 

Kami berangkat menuju pintu pendakian dengan menggunakan mobil pickup. Biaya mobil ini tidak tentu tergantung negosiasi. Kami membayar 15 ribu perorang.

Tak lama berselang kami sampai di depan suatu gapura bertuliskan

SELAMAT DATANG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI.

pintusembalun
Pintu Masuk Sembalun

 

Dan terlihat puncak dari gunung rinjani yang begitu gagahnya. Kami pun mulai memasuki Taman Nasional. Kami pun berjalan menyusuri jalan setapak. Medan pertama yang kami lewati yaitu tanah dengan pohon yang rimbun diantara kami.

Panas, tapi dirindukan

Sebelum kami mulai suntuk dengan medan ini, tiba-tiba kami dibuat terpukau. Puluhan sapi berada di depan kami. Bukan puluhan sapi yang membuat kami terpukau. Jauh didepan mata memandang hamparan padang rumput nan elok menyejukkan mata seolah-olah tersenyum menyambut kedatangan kami.  Satu dua pohon tinggi Nampak berdiri tanpa kawan ditengah-tengah savana ini. Terbesit dalam angan saya, untuk berhenti disini dan tiduran di padang rumput ini. Dalam angan saya, saya ingin berlari kesana kemari, guling sana guling sini. Tetapi saya melirik atap pulau Lombok, dan saya terdorong untuk melanjutkan pendakian ini. Kami berjalan berbaris berbanjar membelah savana nan elok ini. Panas terik matahari terlupakan oleh hijaunya rumput yang bergoyang.

Dari belakang segerombolan orang mengikuti kami dari belakang. Saya tengok kebelakang, puluhan bule berbanjar dengan tujuan sama seperti saya dan teman-teman saya. Beberapa penduduk local aka porter memikul barang-barang bawaan bule. Porter-porter ini dengan beralaskan sandal jepit memikul 2 keranjang yang mungkin jika ditimbang bisa lebih dari berat badan saya. 2 buah tabung gas, beberapa liter beras, sayur-sayuran, tenda, dan perlengkapan pendakian lainnya mereka bawa dengan nyamannya. Tidak dipungkiri Gunung Rinjani sudah terkenal tidak hanya di Indonesia, bahkan mancanegara.

Kami berjalan sangat jauh mengikuti jalur. Selang beberapa jam kami pun sampai di POS 1. Di Pos 1 ini kami kembali bertemu dengan puluhan bule yang sedang beristirahat sambil makan makanan ringan. Tidak hanya bule, dari sudut pandang lain kami melihat pedagang yang menjual makanan semacam biscuit dan aneka minuman. Ternyata di Rinjani juga ada yang jualan makanan, dalam hati saya. Kami pun beristirahat sebentar, duduk, minum dan menikmati eloknya savana sembalun ini. Sungguh ciptaan Tuhan yang luarbiasa.

Sisi Lain Gunung Rinjani

Kami pun melanjutkan pendakian kami. Medan yang kami lalui masih padang rumput yang luas dengan medan sedikit menanjak. Kali ini kami berjalan beriringan dengan bule-bule. Kami agak kesulitan berjalan mengikuti irama bule. Dengan posturnya yang tinggi dua langkah bule merupakan 3 langkah bagi. Kami mulai kecapekan berjalan beriringan dengan bule. Kami memutuskan untuk membiarkan bule tersebut jalan duluan.

Sesekali kami mengabadikan momen dengan berfoto. Tak lupa kami juga mengambil beberapa video untuk dokumentasi. Sangat disayangkan kalau Alam sesindah ini tidak di dokumentasikan. Kami terus melanjutkan pendakian. Setelah berjalan cukup lama kami pun sama di Pos 2.

savana3

Sampai di Pos 2 kami melihat para pendaki lain yang sedang memasak, makan dan ada juga yang sedang mengistirahatkan badannya. Di Pos 2 ini sebenarnya dapat digunakan sebagai tempat buat nge camp. Karena di Pos 2 ini terdapat mata air. TAPIII… saya sangat menyayangkan. Tempat ini cukup kotor dengan sampah plastic bungkus mie instan yang berserakan. Saya sangat kesal jika ada pendaki yang membuang sampah sembarangan.

“Pendaki bukan pengotor”

Di Pos 2 ini kami tidak berhenti, kami langsung melanjutkan pendakian karena memang sudah banyak pendaki yang berada di pos 2 dan tempat yang kurang enak dilihat. Tetapi kami beristirahat sedikit diatas pos 2, sekitar pukul 12.30 siang. Disini kami melepaskan tas carrier dan merebahkan badan kami ke padang rumput. Badan yang mulai lelah dan sejuknya savana membuat kami tertidur. Untung saja tidak selang 15 menit saya terbangun, lantas saya membangunkan teman-teman kami. Kemudian kami melanjutkan pendakian.

Setelah padang savana yang menemani kami sejak dari bibir kawasan ini, akhirnya medan berganti menjadi jalan setapak dengan pohon-pohon rimbun di kanan kiri kami. Disini kami terpisah. 2 orang teman kami, rifa dan apis berada didepan tak jauh saya, donigo dan aiman di belakangnya. Dan di paling belakang catur dan jijon. Kondisi jijon yang sudah mulai kecapekan karena savana yang sangat luas sehingga jalannya melambat.

Hari sudah menuju sore, yang sebelumnya kami hanya bertemu dengan para pendaki yang baru mulai naik, kami mulai bertemu dengan pendaki yang turun dari puncak. “Semangat mas. Hati-hati mas. Sebentar lagi mas.. “ Kata-kata yang seringkali terucap dari beberapa pendaki yang kami temui. Jalur yang sudah mulai menanjak ekstrim dengan jurang di sebelah kanan kami, membuat kami harus berhati-hati. Kami harus pandai-pandai menaruh kaki dalam memijak agar tidak tergelincir.

Semakin ke atas, semakin ramai para pendaki. Sesekali kami mengajak kenalan dan mengobrol dengan para pendaki yang turun. Kami menanyakan tentang letusan kemarin siang.

“Mas pas kemarin meletus berada dimana mas? Sekarang statusnya sudah amankan ya mas?” Tanya saya. “Iya mas kemarin saya menyaksikan langsung sebulan asapnya.” Jawab pendaki lain sambil memperlihatkan hasil dokumentasinya.”Aman kok mas, sekarang asapnya sudah tidak setebal kemarin lagi.” Dua tiga pendaki yang turun saya ajak Tanya saya ajak ngobrol walaupun hanya satu dua pertanyaan.

 

Bermalam di POS 3

Pukul 16.30 sebagian dari kami sampai di POS 3. Disini kami menuju pada sebuah setel berukuran 2x3meter. Kami beristirahat sebentar sembari menunggu catur dan jijon yang masih di belakang.Beberapa menit, catur dan jijon pun sampe. Karena hari sudah sore, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3 ini. Kami mendirikan tenda di tanah berpasir yang datar di sebelah bawah setel. Pada pendakian ini kami membawa 3 tenda. 2 tenda kecil dan 1 tenda besar.

img_20160802_172435_hdr
Foto dari  Selter Pos 3

 

Setelah selesai, kami mengambil air dimata air di dekat pos 3 ini. Jarak dari setel ke mata air sekitar 200 meter. Mata air dapat di tempuh dengan menuruni lereng bukit dengan pijakan berupa rumput yang licin. Mata air disini berupa cekungan pasir yang ada airnya. Bukan berupa air yang mengalir. Walaupun begitu airnya sangat jernih, dan saya tidak ragu untuk meminumnya. Setelah semua botol yang kami bawa penuh, kami kembali ke tenda untuk masak makan sore kami.

Di Pos 3 ini kami mengisi sisa waktu sore dan malam kami di tanggal 2 Agustus 2016. Malam itu kami tidur cepat, agar esok siap melanjutkan pendakian. Karena jalurnya yang kami lalui habis ini akan semakin sulit dan butuh tenaga yang banyak pula.

Bukit Penyesalan

Keesokan harinya kami bangun pagi. Kami mengisi waktu pagi itu dengan ibadah, masak, makan,ambil air dan membereskan tenda. Pagi itu kami makan lumayan banyak untuk melanjutkan pendakian. Baru jam 9 pagi kami benar-benar siap untuk berangkat lagi. Tim-tim lain sudah mendahului kami satu jam sebelumnya. Yang membuat persiapan kami lama adalah packing. Ssemua beban harus dibagi rata agar tidak ada anggota tim yang terlalu cepat kelelahan. Apalagi hari ini kami akan melewati Bukit Penyesalan menuju ke basecamp terakhir sebelum summit, Plawangan Sembalun.

Menurut literatur yang saya baca, dibutuhkan waktu empat sampai lima jam untuk mencapai Plawangan Sembalun. Namun, itu versi porter yang bagi kami sudah seperti superhero. Kami yakin, kami baru akan gelar tenda lagi jauh sore hari nanti. Bukan pesimis, tapi realistis. Satu jam pertama, tanjakan yang didaki tidak terlalu curam. Mirip-mirip perjalanan ke pos tiga. Setelah itu, tanjakan begitu miring, dengan pijakan berupa tanah berdebu. Sebenarnya kami bingung, bukit mana yang disebut bukit penyesalan. Saat itu dalam benak kami hanya berusaha mendaki agar segera sampai di pelawangan sembalun. Setiap seperemat jam atau setengah jam kami berhenti untuk mengatur nafas dan mengatur tas agar nyaman di punggung. Ternyata bener, jalur ini menguras tenaga banget.

Keringat mulai mengucur deras, carrier di punggung serasa makin berat. Tapi alam sepertinya lagi bersahabat sama kami. Setiap kami istirahat, angin yang berhembus dari lembah benar-benar menyejukkan. Lebih nikmat dari AC di ruangan2 kota. Air dari sungai yang kami bawa juga walaupun di dasarnya ada pasir-pasir yang kebawa terasanya menyegarkan.

Disebelah kiri, kami dapat melihat jalur ke Puncak Rinjani dengan cukup jelas. Terlihat jalur berupa pasir dan saya beranggapan bahwa kanan kiri jalur summit tersebut jurang. Tapi itu cuma dalam benak saja. Saat menuju pelawangan sembalun ini saya banyak sekali berpapasan dengan para porter yang memikul barang-barang sisa untuk dibawa turun ke basecamp. Yang saya salut dari para porter ini, mereka hanya menggunakan sandal, menuruni bukit penyesalan yang sangat miring dengan pijakan berupa jalan setapak pasir. Porter ini menuruni bukit dengan lari. Salah dikit memijakkan kaki, bisa jadi jatuh kejurang yang sangat curam.

Akhirnya setelah 5 jam melakukan pendakian kami sampai di punggung bukit dengan banyak istirahat yang tidak bisa terhitung. Dari punggung ini seharusnya danau segara anak terlihat. Namun saat itu kabut menutupi keindahan danau segara anak, sehingga kami belum bisa melihatnya.

Sunset Pelawangan Sembalun

Jam menunjukkan pukul 14.30. Kami melanjutkan perjalanan menuju pelawangan. Angin yang kencang membawa dingin yang menusuk-nusuk. Jalan yang mendatar kami pun sampai di pelawangan sembalun setengah jam kemudian. Saat kami sampai disana, belasan tenda sudah berdiri mengisi setiap jengkal pelawangan sembalun. Ada hal yang membuat saya berpikir yaitu terdapat pedagang yang berjualan aneka snack dan minuman di pelawangan sembalun. Saya tidak bisa membayangkan bagaiman bapak ini mengisi kembali dagangannya jika sudah habis. Ntah bagaimana pun caranya saya sangat mengapresiasi semangat mencari nafkahnya.

Akhirnya kami mendirikan tenda di paling ujung dekat jalur pendakian ke puncak. Setelah tenda terpasang, yang pertama kami lakukan adalah mencari informasi sumber air. Ternyata, tempat kami mendirikan tenda berada di jalur yang digunakan untuk mengambil air. Lokasinya tidak jauh di lembah di arah sebaliknya dari Danau Segara Anak. Airnya bersih dan sangat menyegarkan, juga bisa digunakan untuk mandi karena cukup berlimpah.

Udara sangat dingin dan saya sampai menggigil. Tetapi bodohnya saya malah hanya menggunakan celana pendek dan kaos. Saya bersama dengan jijon mencari spot yang bagus untuk foto. Nampaknya sore itu kami diberi bonus yang luarbiasa, kami ditunjukkan ciptaan-Nya yang  luar biasa.

20160803_183409
Sunset di Pelawangan Sembalun

 

Pemandangan sunset yang kami lihat begitu menakjubkan. Kombinasi siluet pelawangan senaru dengan sisa cahaya matahari yang berwarna kuning ke orenan. Semakin lama warna oren berubah menjadi putih kebiruan sebelum malam pun tiba. Pemandangan sunset ini menjadi pelengkap yang sempurna.

Malam harinya kami memutuskan untuk tidur cepat karena dini hari nanti akan menuju puncak rinjani.

Summit Attack

Alarm berbunyi, jam pun menunjukkan pukul 1 dinihari. Kami pun terbangun. Sesuai rencana kami akan melakukan summit attack dini hari ini dan kami pun bersiap-siap. Malam itu gerimis dank abut kencang menerpa. Namun hal itu tidak menurunkan semangat kami untuk menuju ke Puncak Rinjani. Dan kami semua memutuskan untuk ikut summit attack. Sebelumnya kami melakukan briefing dan berdoa.

Jam menunjukkan pukul 1.30, kami berangkat dengan melawan dingin. Awalnya jalannya nampak biasa saja. Setelah beberapa menit kami melalui trek yang menanjak dan berpasir. Kondisi yang sangat dingin dan debu yang berterbangan membuat pernasapasan mulai terganggu. Celakanya salah satu dari tim kami ada yang takut dengan trek berpasir sehingga mobilisasi kami begitu lambat. Pelan-pelan kami melangkahkan kaki, mencari pijakkan yang pas yang tidak menggelincirkan.

Disini kami disusul oleh rombongan bule bersama guide nya. Puluhan bule lewat sebelah kanan saya dengan semangat seakan-akan tidak merasakan kedinginan. Tidak berselang lama, kami menemukan trek yang datar dengan jurang di sebelah kanan kami. Saat itu kami berjalan berpegangan pelan-pelan karena angin begitu kencang dan gerimis perasaan takut jatuh sangat besar. Sesekali kami harus berlindung dibalik batu yang besar untuk sejenak menghangat badan kami. Kami juga harus mengatur pernapasan kami. Hampir 2 jam kami melewati trek pasir yang menanjak sedikit ini. Dalam pikiran kami, kami berjalan kedepan jika ada batu atau gudugan pasir yang tinggi kami berhenti dan berlindung dari angina.

Benar adanya salah satu dari teman saya, Jijon, drop kedinginan dan pernapasannya terganggu. Saat itu saya benar-benar bingung. Sementara yang lain sibuk mengurusi dirinya sendiri yang kedinginan.

“Di, saya ga kuat di.” Ujar jijon. “kenapa jon? Ini kita baru perjalanan ke puncak lho jon. Kalau kamu mau sampai puncak ya harus kuat.” Jawab saya. “Iya di saya pengen di, tapi saya ga kuat ini di.”

Nah saya semakin bingung. Saya Tanya yang lain, yang lain pada sibuk menghangatkan dirinya sendiri. Saat itu saya hanya bisa menuntun jijon dan terus memotivasinya. Pasalnya, jijon tidak mau diajak turun kembali ke tenda dan kalau kita berdiam diri disini, kita malah kedinginan dan bisa hipotermia. Tangan kanan saya memegangi tangan kiri jinjon dan menuntunnya dalam pendakian tersebut. Berjalan 5 meter berhenti, angkat jijon lagi, berjalan 5 meter lagi berhenti. Ada bule yang baik hati membatu saya untuk menuntun Jijon. Bule tersebut memegangi tangan kanan Jijon sementara saya memegangi tangi kiri Jijon.

Semakin lama trek semakin miring. Kondisi angin yang sangat kencang dan juga gerimis membuat kami harus menggunakan tenaga ekstra untuk bisa sampai di puncak rinjani. Belum sampe dipuncak, sang surya telah menampakkan diri. Perlahan naik sedikit demi sedikit menerangi dunia. Sunrise yang luar biasa dari lereng dibawah puncak rinjani. Kami semakin semangat menuju puncak. Akhirnya kami sampai dipuncak sekitar pukul 6.

“Jika kita mempunyai mimpi, dan kita mau berusaha, melawan rintangan yang ada, serta dengan sedikit memaksakan, percalah mimpi itu akan tercapai.”

Dingin yang begitu menusuk memaksa kami untuk selalu gerak agar tidak kedinginan. Tiba-tiba saatsalah satu dari kami mengeluh kedinginan ada pendaki lain yang memberi tahu kalau suhu waktu itu sekitar 5 derajat celcius. 5 derajat dipuncak gunung rinjani. Layaknya pendaki lain kami pun asik berfoto untuk mendokumentasikan momen ini. Tapi sayangnya saat itu baru kabut, sehingga danau segara anak tidak tertutup oleh awan.

cropped-img_20160804_070642_hdr.jpg
Puncak Rinjani

 

Karena kedinginan, Apis, Jijon, Aiman dan Rifa memutuskan untuk turun menuju tenda duluan. Sementara itu saya, Catur dan Donigo masih asik berfoto. Kapan lagi berdiri di tanah tertinggi di pulau Lombok ini. Alasan saya untuk menikmati puncak rinjani dulu ketimbang buru-buru menuju tenda.

Pukul 8.30 kami bertiga memutuskan untuk turun menuju ke tenda karena kami sudah merasa lapar. Selama turun dari puncak, terlihat trek yang kita lalu di pagi dini hari tadi. Trek berpasir dengan jurang disebelah kanan kiri. Tidak kebayang rasanya jika tadi terseret angina dan masuk jurang.

Danau Segara Anak

Sesampainya di tenda sekitar pukul 11 pagi kami masak, makan dan membereskan tenda, karena destinasi berikutnya yaitu danau segara anak. Bagi para pendaki rinjani, rasanya tidak afdhol kalau tidak ke danau segara anak. Jarak dari pelawangan sembalun ke segara anak sangat jauh. Menurut perkiraan pelawangan sembalun ke segara anak dapat ditempuh selama 4- 5 jam.

Kami berangkat dari pelawangan sembalun pukul 1 siang. Kami melewati jalur yang berlawanan dengan arah ke sembalun. Jalurnya pertama kali menyambut kami yaitu jalan setapak dengan batuan yang sangat tidak teratur. Kami harus sangat berhati-hati agar tidak terkilir. Selang waktu 1 jam, kami berhenti dahulu, karena salah satu teman saya, Aiman masih ketinggalan di belakang karena Aiman takut kalau turun. Akhirnya untuk mengejar waktu agar kami tidak kemaleman sampai Danau Segara Anak ,kami  memutuskan membagi menjadi 2 kloter. Saya, Jijon, dan Catur Jalan duluan, sementara itu Apis, Donigo dan Rifa menunggu Aiman. Tetapi Rifa Nampak jalan sendiri di belakang kloter saya.

Suasana kemricik air yang sayup-sayup terdengar membuat kami semakin bersemangat untuk segera sampai di danau. Satu setengah jam berlalu trek sudah tidak bebatuan lagi tetapi berupa padang rumput yang datar dan sesekali menurun. Kami melewati 2 buah jembatan yang sangat bagus jika dijadikan objek foto. Pemandangan yang bagus menemani kami dalam perjalanan menuju segara anak.

Pukul 16.00 akhirnya saya, Catur dan Jijon sampai di danau segara anak. Tebing yang membentang mengililingi danau segara anak ini. Cahaya matahari yang menyinari kaldera ini memperindah muka dari danau segara anak. Gunung Baru Jari yang berdiam di tengah danau menyambut kami dengan asap tipisnya. Gunung Baru Jari ini nampak tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa pasca 2 hari erupsinya.

“Surga dunia yang senantiasa dijaga kegagahan Gunung Rinjani”

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tempat buat mendirikan tenda. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di dekat Danau Segara Anak. Kemudian kami bertiga membagi tugas. Donigo mempunyai tugas mendirikan tenda, sedangkan saya yang memancing ikan sebagai lauk malam ini.

Tentu, sudah kami rencanakan untuk memancing ikan di Danau ini. Mata pancing dan senar sudah saya persiapkan dari Bandung. Saya menggunakan ranting kayu sebagai joran pancing. Sebagai umpan ikan, saya menggunakan sosis so nice. Umpan ini saya tahu dari bapak-bapak yang kami temui di bukit penyesalan. Setelah semua siap, saya lemparkan mata pancing menjauh dan ke tengah danau. Teknik-teknik memancing yang saya pelajari saat di desa saya terapkan disini. Benar saja, belum sampai 5 menit saya mendapatkan seekor ikan. Walaupun ikannya tidak terlalu besar, setidaknya masih bisa dijadikan lauk buat makan malam. Kemudian teman-teman kami berdatangan. Rifa membantu saya memancing. Sore itu kami berhasil memancing 16 ekor ikan dan kami masak, kami jadikan lauk makan malam itu.

img_3100
Danau Segara Anak

 

Hari itu merupakan hari yang melelahkan, setelah summit attack dan turun menuju danau segara anak ini. Kami memutuskan untuk tidur cepat malam itu.

Bye bye Segara Anak

Dingin yang menusuk dan sinar matahari yang menyilaukan membangunkan kami, seolah-olah menyuruh kami untuk keluar menikmati surganya rinjani. Membuka tenda, saya melihat tenangnya air danau, gagahnya Gunung Baru Jari dan bayang-bayang dari puncak bukit dibelakang kami. Hal itu pun membuat kami enggan bermalas-malasan.

Pagi itu kami memulai dengan duduk santai dipinggir danau sambal menikmati suasana damai segara anak. Kami pun mulai menggerak-gerakkan badan kembali. Karena persiapan air minum kami habis, kamipun mengisikan kembali botol-botol yang sudah kosong untuk menemani perjalanan kami berikutnya. Kami berjalan menuju belakang tenda dan menuju sumber mata air. Sumber mata air tidak jauh dari tenda kami. Hanya sekitar 200 meter dan berjalan sekitar 10 menit.

Ada yang special disini. Selain sumber mata air yang bersih, disini juga terdapat sumber air panas. Dengan air panas yang mengalir dan mengisi kolam. Air panas ini menjadi spot favorit para pengunjung Danau Segara Anak untuk mandi dan menyegarkan badan kembali. Tetapi pagi itu kami tidak sempat untuk merasakan kesegaran air panas tersebut karena kami harus segera berangkat turun dari Gunung Rinjani ini. Ya, hari itu merupakan hari terakhir kami di Gunung Rinjani. Setelah kami melakukan pendakian lewat jalur sembalun, kini kami memutuskan untuk menuruni gunung via Senaru.

Menurut beberapa literatur yang saya baca, jalur senaru berbeda 180 derajat dengan jalur sembalun. Jalur sembalun yang lapang, savanna yang luas dan panas, sedangkan jalur senaru berupa hutan, dengan pohon yang menjulang tinggi dan rimbun. Untuk mencapai senaru, sebelumnya kami harus mendaki dahulu menuju pelawangan senaru.

Kami berangkat sekitar pukul 9 pagi dari Danau Segara Anak menuju pelawangan senaru. Setelah tenda-tenda selesai dikemas, setelah semua barang sudah dirapikan dan setelah kami selesai asik foto dengan keindahan Danau Segara Anak, Kami mulai melangkahkan kaki dengan tujuan puncak bukit dibelakang kami yaitu Pelawangan Senaru. Kami harus bersiap tenaga ekstra karena menuju pelawangan senaru jauh lebih sulit dari pada menuju pelawangan sembalun.

Akses dari Danau ke Pelawangan Senaru begitu sulit. Jalur dimulai dengan jalan yang landau agak menanjak berupa rerumputan dan pepohonan yang kecil-kecil. Semakin jauh kami berjalan, semakin menanjak jalan yang kami lewati dan semakin berbatu pula medan yang kami daki. Sesekali kami harus memanjat menggunakan kedua tangan kami untuk berusaha naik keatas. Tanjakan yang begitu curam cepat sekali menguras tenaga kami. Keringat mulai bercucuran membasahi baju kami. Jika kita melihat kebelakang pemandangan yang luarbiasa yang kita lihat. Iya, Danau Segara Anak beserta komponen-komponennya seakan-akan menarik kita untuk kembali menyambanginya.

Dua jam kami berjalan, kami beristirahat di bawah pelawangan senaru. Sambil menikmati kembali pemandangan Danau Segara Anak sebelum tidak bisa melihatnya kembali. Tak bosan kami mangabadikan Danau Segara Anak. Dari sisi ini juga kami melihat Puncak Rinjani yang gagah seolah-olah melindungi Danau Segara Anak dari bahaya yang akan merusak keindahannya. Sungguh tatanan alam yang luar biasa dari-Nya.

20160805_131220
Foto dari Pelawangan Senaru

 

Setelah beberapa menit kami melanjutkan pendakian menuju Pelawangan Senaru. Jalan kecil di sebelah bukit yang terjal dibantu dengan tiang-tiang besi yang dipasang untuk pegangan merupakan jalur yang kami lewati sampai Pelawangan Senaru. Pukul 12.30, kami akhirnya sampai di Pelawangan Senaru. Tidak semua dari kami sampai di Pelawangan ini dalam waktu yang bersamaan. Dibelakang masih ada Jijon dan Aiman yang pelan-pelan mendaki pelawangan senaru ini.

Terpisahnya Jijon dan Aiman

Karena tenaga kami terkuras habis untuk sampai di Pelawangan ini, kami pun memasak sembari menunggu dua teman kami yang masih dibawah. Saat itu kami menghabiskan semua bekal yang kami bawa kecuali 6 bungkus mie instan yang dibawa Aiman dan Jijon. Setelah masak dan selesai makan, tentu menyisakan makanan untuk Jijon dan Aiman, beberapa dari kami berlima memutuskan untuk tidur sejenak termasuk saya. Kelelahan yang menumpuk dari kemarin membuat tidur kami begitu nyenyak walaupun kami tidur dibawah terik matahari langsung hanya bertutupkan jaket yang kami kenakan.

Pukul 14.30 kami terbangun dan Jijon serta Aiman pun belum terlihat. Kamipun mulai mengkhawatirkan mereka berdua. “Jijoooon…. Aimaaaaann. Jijon.” Kata yang beberapa kali saya teriakkan berharap ada balasan suara dari mereka. Setelah setengah jam kami suara mereka pun terdengar. Karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami pun mulai bingung antara menunggu Jijon dan Aiman dengan konsekuensi kami semua kemaleman di Jalur senaru atau kami jalan duluan dan saat kami sampai Senaru kami meminta pertolongan kepada warga local untuk menjemput jijon dan aiman.

Saat itu kami memutuskan tidakan yang BODOH yang kami ambil yaitu meninggalkan Jijon dan Aiman dengan meninggalkan pesan untuk Jijon dan Aiman.

“Jon, Man.. Kami turun duluan yaa. Didalam tas maneh ada mie instan di makan aja yaa buat kalian. Nanti ketemu di basecamp yaa.”  Isi pesan yang tertulis yang kami tujukan untuk jijon dan Aiman.

Setelah saya pikir-pikir lagi itu sangat konyol sih. Tapi ya seperti itu tindakan yang kami lakukan pada waktu itu. Mungkin ini disebabkan oleh pikiran yang pendek dan kepanikan.

Setelah meninggalkan surat tersebut di bawah batu, kamipun melanjutkan perjalanan menuruni pelawangan senaru menuju basecamp senaru. Jalan pasir merah yang begitu licin menjatuhkan saya hamper 7 kali. Agar tidak terjatuh kami harus mengikuti aliran pasir atau pelan-pelan. Karena saya pengen segera sampai bawah saya dan teman-temanpun memilih untuk mengikuti flow badan.

Setelah kami berjalan sekitar 1 jam dan saat itu kami sudah mulai memasuki hutan, tiba-tiba ada rombongan orang mataram yang memanggil kami dari belakang. “Mas yang dari bogor dan bandung yaa, itu temennya ada yang ngedrop katanya kecapekan, trus mau masak mi katanya ga ada kompor”. “Iya mas, oh 2 orang yang badannya agak gemukan ya mas, memakai topi bunder?” jawab catur. Mengetahui kalo Jijon dan Aiman ngedrop kamipun berhenti sejenak untuk menunggu mereka dan kami menunggu mereka di POS 3 jalur Senaru. Di Pos 3 ini banyak sekali monyet yang sangat usil.

Setelah kami berdiskusi dan membahas kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi, saya pun akhirnya kembali naik keatas bersama catur untuk menjeput jijon dan Aiman. Sesekali kami sambal meneriakkan nama Jijon dan Aiman. Saya dan catur bertemu dengan Jijon dan Aiman masih ditempat berpasir tadi. Dan kami berjalan pelan-pelan menuju Pos 3 dimana, Apis, Donigo dan Rifa menunggu kami.

Pukul 5 sore kami baru berangkat dari POS 3 menuju Basecamp Senaru. Jalur Senaru yang sangat rimbun dengan pohon-pohon yang besar dan tinggi terkenal dengan keangkerannya akan makhluk halus. Sehingga saat turun dari POS 3 kami berlarian dengan maksud kami bisa sampai bawah sebelum larut malam. Jalanan yang landai membuat kami lebih mudah untuk berlari. Dari pos 3 ke basecamp berjarak 8 km. Kami berbanjar berlarian dengan tidak mengosongkan pikiran. Aiman Rifa Jijon Donigo Saya Apis dan Catur merupakan urutan berjalan kami. Kami pun sebisa mungkin berlari untuk sampai di bawah.

Malam di Jalur Pendakian Senaru

Hari mulai gelap, binatang-binatang malam mulai keluar. Saat itu kami baru sampai di POS 2. Kami pun melaksanakan shalat maghrib di POS 2 tersebut. Pukul 18.30 kami melanjutkan perjalanan menuruni Gunung Rinjani ini, Suasana begitu menyeramkan. Hanya cahaya dari senter masing-masing kami yang ada. Karena takut ada apa-apa, kamipun berjalan pelan-pelan dengan menempel teman di depan kami. Kalau bisa berlari kami berlari. Sebisa mungkin kami mempercepat langkah kami agar bisa sampai ke bawah dengan cepat dan selamat.

Kejadian-kejadian aneh saat itu bertubi-tubi bermunculan. Memang tidak nampak dan hanya dialami setiap pribadi. Sejak dari POS 2 punggung saya terasa lebih berat dari sebelumnya. Badan saya juga berkeringat saat itu, tetapi saya memilih untuk diam. Sementara Jijon melihat sosok pesinden yang memakai baju sinden lengkap. Sedangkan ada juga yang melihat monyet emas dalam perjalanan malam itu. Namun semua yang kami rasakan masing-masing itu tidak kami bahas saat malam itu.

Sesekali kami berhenti untuk beristirahat. Kami sampai di POS 1 sekitar pukul 8 malam. Kami mengeluarkan minuman kami. Dan kami minum satu persatu. Kami berusaha untuk tetap fokus dan tidak memikirkan aneh-aneh malam itu. Kami melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Malam itu merupakan malam yang panjang bagi kami. Kami sama sekali tidak menikmati perjalanan turun dari pelawangan senaru ke basecamp senaru.

Sekitar pukul 10 malam kami akhirnya sampai di Gapura yang merupakan pintu Senaru. Akhirnya kamipun berisitirahat di rumah dekat gapura itu dan membeli gorengan dan minuman sebelum kami menuju basecamp. Malam itu kami makan dulu dan tidur cepat karena kondisi badan kami yang kecapekan.

Proses turun dari Pelawangan Senaru sampai Basecap senaru mengajarkan banyak hal pada diri saya. Mulai dari kebersamaan, kepedulian, ketenangan, kesabaran, dan ketidakegoisan. Kami sangat bersyukur akhirnya bisa sampai di Basecamp senaru dengan sehat dan selamat. Dan yang lebih bangga lagi akhirnya kami sudah berdiri di atap Lombok, melihat keindahan Lombok, melihat keindahan Indonesia dan tentunya merasakan keagungan Allah SWT.

 

“Tuhan menciptakan alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berfikir.”

“Tanpa manusia alam akan tetap ada, Tanpa alam manusia tidak akan pernah ada.”

“Semua keindahan yang anda temukan dalam hidup anda tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keindahan yang akan anda temukan dalam sebuah petualangan”

Mt Rinjani , NTB

Agustus, 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s